Belajar Dari Kesalahan Di Rumah Lama Bagian 2

Dominasi Hijau

Di rumah yang lama, Yoshi menggunakan warna-warna yang “aman”. Di rumah barunya ini, ia tak menerapkannya lagi. Warna hijau terlihat mendominasi tatanan rumah Yoshi. Walaupun diakuinya ini bukan warna favoritnya—ia memilihnya hanya karena warnanya menarik—warna hijau membuat hunian mungil ini jadi tampak segar.

Ruang dapur dan ruang makan pun dibuat dalam balutan warna hijau. Khusus untuk ruang makan, Yoshi punya cerita tersendiri. Ruang makan ini memang berbeda dengan ruang makan kebanyakan yang terdiri dari sebuah meja dan empat kursi. Ruang makan ini dibuat ala kafé, dengan bangku panjang di salah satu sisinya. Ide ruang makan ala kafe ini awalnya datang dari sang desainer, setelah tentunya disempurnakan oleh masukan dari pemilik rumah. “Ini saya cerewet juga. Saya minta ada motif berlian di kursinya.

Lalu minta Pak Fadli bikin beberapa kombinasi paduan dari warna-warna itu (hijau, merah, abu-abu). Akhirnya kepilih yang ini,” cerita Yoshi. Ia kemudian menambahkan, “Tapi jadinya puas banget. Beda dengan biasanya. Jauh beda dengan rumah yang lama.” Yoshi mengakui, dengan penataan yang didesain sejak awal, rumah barunya ini jauh lebih nyaman dan lebih enak dipandang ketimbang rumah lamanya. Ya, belajar dari pengalaman adalah hal yang tepat.

This entry was posted in Rumah.

Belajar Dari Kesalahan Di Rumah Lama

Banyak menemukan ketidaknyamanan di rumah lamanya, pasangan ini mendesain rumah barunya dengan sangat seksama. Kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Ini juga yang berlaku pada pasangan Soelistyo (41) dan Yoshida (42) ketika mendandani rumah mereka yang berada di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan ini. Beberapa pengalaman yang mereka dapatkan di rumahnya yang dulu membuat mereka lebih punya pegangan ketika membuat interior rumah baru mereka. Dibantu oleh sang desainer, Fadli Sirajuddin dari A+Plan, Yoshi—begitu Yoshida biasa dipanggil—secara bertahap mengisi rumah barunya ini. Tahap pertama dilakukan di lantai dua rumahnya, yang terdiri dari ruang tidur. Beberapa bulan setelah interior ruang tidur dibuat, Yoshi meminta Fadli kembali mendesain lantai bawah rumahnya. “Yang penting bisa tidur dulu, kan enggak enak rumah baru kalau enggak bisa tidur. Makanya saya minta dibuat dulu kamar tidurnya. Habis itu baru deh yang lainlainnya,” tutur ibu dari dua anak yang masih tampak muda ini.

Tak Mau Mirip Rumah Lama

Di rumahnya yang lama, Yoshi memiliki banyak furnitur yang tak sesuai satu dengan lainnya. Itu sebabnya, di rumahnya yang baru ini, Yoshi meminta Fadli tak memasukkan banyak furnitur. “Dulu kan beli barangnya satu-satu, jadi enggak nyambung dan banyak (furnitur) gitu. Makanya sekarang saya dari awal langsung dirancang maunya apa, biar enggak kayak dulu lagi,” ucap Yoshi, mengemukakan alasan mengapa ia akhirnya menggunakan jasa desainer untuk mendandani rumahnya.

Agar tak salah, ketika membeli barang interior pelengkap, Yoshi tetap meminta pendapat pada Fadli. Bahkan, menurut cerita Yoshi, ketika membeli vas bunga pun ia mengirimkan gambar kepada Fadli. “Cerewet sih aku, tapi daripada salah, kan ya?” tuturnya sambil tertawa. Rumah lama diakui Yoshi memang membuatnya memetik beberapa hal yang tak mau diulanginya lagi di rumah barunya ini. Selain furnitur tadi, juga penggunaan terali. Di rumah lamanya, seluruh jendela ditutup dengan terali. Tak mau begitu lagi, ia meniadakan penggunaan besi pengaman ini di seluruh rumahnya, apalagi kini rumahnya terletak di kluster yang pengamanannya cukup baik.

Agar kenyamanan rumah tetap terjaga, perlu adanya sebuah genset untuk listrik cadangan. Harga genset murah bisa didapatkan melalui Distributor Jual Genset Bali yang memberikan garansi resmi serta harga diskon.

This entry was posted in Rumah.